AbuDujanah pun kemudian menjelaskannya, bahwa pohon kurma tersebut adalah milik seorang laki-laki munafik. Tanpa basa-basi, Rasulullah SAW mengundang pemilik pohon kurma. Beliau mengatakan, "Bisakah tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri.
Halaman utamaAnimeTrendingKategoriLIVEMasuk untuk lihat konten yang Anda ikutiKisah Abu Dujanah dan Pohon Kurma Kisah TeladanDilarang memposting ulang tanpa izin dari untukmuSemuaAnime402251259304431323605341406425311305318338432332338258339Komentar 20TerbaikTerbaruKeren banget menambah wawasan kak animasinya bagus bangetTerjemahkanAnimasinya keren plus nambah pengetahuan, mantap kakTerjemahkanKeren bet kak, mangattt terussss TerjemahkanDisukai oleh creatorKeep spirit Guys❓Lets Smile For This Day🤓TerjemahkanCuma mampir TerjemahkanMasyaAllah, aku baru tahu ada cerita pohon kurma yg berpindahTerjemahkanSemangat Upload Nya Pleas Back Like Komen BrooTerjemahkanMenambah wawasan tiap malem TerjemahkanWahh kerenn kakTerjemahkanwoah mangstap kakTerjemahkanKerenTerjemahkanTidak ada lagi komentar Rasulullahffi menyuruh pasukannya untuk menebang dan membakar pohon-pohon kurma kaum musyrikin memberikan bagian khusus kepada Abu Dujanah dan Sahal bin Hunaif, dua orang dari Anshar, karena keduanya miskin.te, Harta- yarLg terjadi pada PerangDzaturriqa' adalah kisah unta Jabir yang dijualnya kepada Rasulullah Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, terdapat seorang sahabat bernama Abu Dujanah. Setiap usai menjalankan ibadah shalat berjamaah shubuh bersama Baginda Nabi, Abu Dujanah selalu tidak sabar. Ia terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah selesai. Ada satu kesempatan, Rasulullah mencoba meminta klarifikasi pada pria tersebut. “Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?” tanya Nabi. Abu Dujanah menjawab, “Anu Rasulullah, kami punya satu alasan.” “Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” perintah Baginda Nabi. “Begini,” kata Abu Dujanah memulai menguraikan jawabannya. “Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.” BACA JUGA Rasul Tahu Aisyah Sedang Marah “Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami tersebut terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami haturkan kepada pemiliknya.” “Satu saat, kami agak terlambat pulang. Ada anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuan. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami semalam.” “Mengetahui itu, lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulut anakku itu. Kami keluarkan apa pun yang ada di sana. Kami katakan, Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.’ Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan.” “Wahai Baginda Nabi, kami katakan kembali kepada anakku itu, Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak’.” Pandangan mata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya berderai begitu deras. BACA JUGA Sunnah Rasul; Adab Memotong Kuku Baginda Rasulullah Muhammad shallahu alaihi wa sallam mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah dalam kisah yang ia sampaikan di atas. Abu Dujanah pun kemudian menjelaskan, pohon kurma tersebut adalah milik seorang laki-laki munafik. Tanpa basa-basi, Baginda Nabi mengundang pemilik pohon kurma. Rasul lalu mengatakan, “Bisakah tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” Begitu tawar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Pria yang dikenal sebagai orang munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.” Tiba-tiba Abu Bakar as-Shiddiq radliyallahu anh datang. Lantas berkata, “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini lebih bagus jenisnya.” Si munafik berkata kegirangan, “Oke, ya sudah, aku jual.” Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.” Setelah sepakat, Abu Bakar menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah seketika. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.” Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berlalu. Ia berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja terjadi. “Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun.” Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia keheranan tiada tara. Dalam kisah ini, dapat kita ambil pelajaran, betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah tersebut dalam menjaga diri dan keluarganya dari makanan harta haram. Sesulit apa pun hidup, seberat apa pun hidup, seseorang tidak boleh memberikan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya dari barang haram. Setiap kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah subhânahu wa ta’âla sepuluh kali lipat sebagaimana janji Baginda Nabi Muhammad. Adapun panen dari pada janji itu bukankan kontan sekarang, namun di akhirat kelak. Karena dunia ini adalah dâruz zari tempat bercocok tanam, bukan dârul hashâd tempat memanen. Kisah di atas disarikan dari kitab I’anatuth Thâlibîn Beirut, Lebanon, cet I, 1997, juz 3, halaman 293 karya Abu Bakar bin Muhammad Syathâ ad Dimyatîy w. 1302 H. SUMBER NU ONLINE Usaimelakukan transaksi, Abu Dahdah menemui Rasul SAW. "Wahai Rasulullah," katanya, "Aku telah membeli pohon kurma yang tadi diperselisihkan oleh mereka. Kini, kuberikan pohon itu kepada engkau.". Nabi SAW tersenyum dan bersabda, "Alangkah harum dan banyaknya tandan kurma yang dimiliki Abu Dahdah di surga kelak.". Oleh Dian Ekawati 9/24/2021, 85121 AM Inspirasi Di dalam kitab I'anatuth-Thalibin Bab Luqatah karya Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyati, diceritakan sebuah kisah sahabat yang membuat Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam meneteskan air mata. Adalah Abu Dujanah Radhiallahu'anhu sahabat Nabi dari kabilah Khazraj yang membuat Rasulullah menangis. Selain dikenal pemberani di medan perang, Abu Dujanah juga seorang yang sangat menjaga diri dan keluarganya dari perkara haram. Suatu hari, usai salat shubuh berjamaah bersama Rasulullah, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa mengikuti doa ba'da salat yang dipanjatkan mencoba mencari tahu penyebab kebiasaan Abu Dujanah itu. "Wahai Abu Dujanah, apakah engkau tidak memiliki permintaan yang perlu engkau panjatkan ke hadirat Allah sehingga engkau sering meninggalkan masjid sebelum aku selesai berdoa?" tanya beliau. Abu Dujanah menjawab, "Begini Rasulullah," kata Abu Dujanah memulai ceritanya. "Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku itu saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.” "Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan. Saat anak-anak kami bangun, apapun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai salat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya." Abu Dujanah lantas menceritakan, pernah suatu ketika anaknya kedapatan memakan kurma yang jatuh dari pohon tetangganya itu. Maka, ia pun berupaya sekuat tenaga untuk mengeluarkan kurma yang terlanjur dimakan tadi dari mulut anaknya. “Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.” Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan. Wahai Rasululah, kami katakan kembali kepada anakku itu, “Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak." Mendengar cerita itu, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca, butiran air mata mulianya berderai begitu deras. Baginda Rasulullah mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah itu. Abu Dujanah pun mengatakan bahwa pohon kurma itu milik seorang laki-laki munafik. Rasulullah langsung mendatangi pemilik pohon kurma yang diceritakan oleh Abu Dujanah. Rasul lalu mengatakan, "Apa bisa engkau menjual pohon kurma itu? Aku akan membelinya dengan pohon senilai 10 kali lipat. Pohon itu terbuat dari batu zamrud berwarna biru, disirami emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” kata Rasulullah menawarkan. Laki-laki munafik ini lantas menjawab dengan tegas, "Saya tidak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan ingin dibayar saat ini juga." Tiba-tiba Abu Bakar as-Shiddiq datang. Lantas berkata, "Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milikmu yang jenisnya tidak ada di kota ini lebih bagus jenisnya." Si munafik pun kegirangan sembari berujar "Ya sudah, aku jual." Abu Bakar menyahut, "Bagus, aku beli." Setelah sepakat, Abu Bakar langsung menyerahkan pohon kurma itu kepada Abu Dujanah. Rasulullah kemudian bersabda, "Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu." Mendengar sabda Nabi itu, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berjalan mendatangi istrinya. Lalu menceritakan kejadian yang baru saja ia alami. "Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun." Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon itu tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, saat ini rata dengan tanah. Ia keheranan tiada tara. Demikian kisah sahabat dan pohon kurma yang membuat Rasulullah menangis. Hikmah yang kita petik dari kisah ini adalah kehati-hatian para sahabat menjaga diri dan keluarganya dari makanan yang haram. Kemudian pohon kurma yang berpindah posisi itu adalah salah satu mukjizat Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam yang langsung dirasakan oleh sahabat Abu Dujanah. Related Posts Terpopuler
FollowIG Aku di @kisahteladan.officialTonton juga video ini:KISAH UMAR bin KHATTAB dan IBU PEMASAK BATU Khalifah Umar dan
Dalam kitab I’anatuth-Thalibin Bab Luqatah karya Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyati, diceritakan sebuah kisah sahabat yang membuat Rasullullah SAW menitiskan air adalah Abu Dujanah RA, sahabat Nabi dari kabilah Khazraj. Beliau syahid dalam perang Yamamah ketika memerangi nabi palsu, Musailamah dikenal pemberani di medan perang, Abu Dujanah juga seorang yang sangat menjaga diri dan keluarganya dari perkara hari setelah selesai solat Subuh berjemaah bersama Rasullullah SAW, Abu Dujanah dilihat terburu-buru pulang tanpa mengikuti doa selepas solat yang dipanjatkan gelagat ini, Rasulullah meminta penjelasan daripada Abu Dujanah. “Mengapa setiap hari kamu tergesa-gesa pulang dari solat Subuh engkau tidak memiliki permintaan kepada Allah sehingga tidak pernah menungguku selesai berdoa. Ada apa?” tanya Baginda Nabi Dujanah menjawab, “Begini Ya Rasullullah,” kata Abu Dujanah memulai ceritanya. “Rumah kami bersebelahan dengan rumah seorang atas pekarangan rumah milik jiran kami ini, terdapat sepohon kurma yang tinggi menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kali angin bertiup di malam hari, kurma-kurma jiranku itu selalu terjatuh, mendarat di rumah Rasullullah, kami sekeluarga sering kelaparan, kurang anak-anak kami bangun, apa pun yang mereka dapati, mereka kerana itu, setelah selesai solat, kami bergegas pulang sebelum anak-anak kami terbangun dari kumpulkan kurma-kurma milik jiran kami yang berciciran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya.”“Suatu ketika, kami agak terlambat anakku yang sudah terlanjur memakan kurma yang kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam telah memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami itu, lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulut anakku keluarkan apa pun yang ada di katakan, “Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.”Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air kerana sangat Rasullullah, kami katakan kembali kepada anakku itu,“Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu.""Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak.”Mendengar itu, mata Rasulullah berkaca-kaca, butiran air mata mulianya berderai begitu cuba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksudkan Abu Dujanah Dujanah pun mengatakan bahawa pohon kurma itu milik seorang lelaki berfikir panjang, Baginda mengundang pemilik pohon lalu mengatakan, “Bolehkah aku meminta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu?Aku akan membelinya dengan sepuluh kali ganda dari pohon kurma itu dibuat daripada batu zamrud berwarna biru, disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada,” kata Rasullullah munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tidak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh nilai.""Saya tidak mahu menjual apa pun kecuali dengan wang tunai dan tidak pakai janji bila-bila."Tiba-tiba sahabat setia Baginda, Abu Bakar As-Siddiq RA berkata, “Baiklah kalau begitu, aku beli dengan sepuluh kali ganda dari tumbuhan kurma milik kamu salah satu yang jenisnya tidak ada di kota ini lebih bagus jenisnya."Si munafik pun kegirangan sambil berkata “Baiklah, aku jual.”Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.”Setelah sepakat, Abu Bakar terus menyerahkan pohon kurma itu kepada Abu kemudian bersabda, “Wahai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”Mendengar sabda Baginda itu, Abu Bakar sangat juga Abu Dujanah. Si munafik berjalan mendatangi isterinya lalu menceritakan kisah yang baru saja ia alami.“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku mendapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus.""Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya terlebih dahulu dan buah-buahnya tidak sedikit pun akan ku berikan kepada jiranku.”Malamnya, ketika si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu tak pernah sekalipun tampak pohon itu tumbuh di atas tanah si asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia kehairanan tiada kisah sahabat dan pohon kurma yang membuat Rasullullah SAW yang dapat dipetik dari kisah ini adalah berhati-hatinya para sahabat menjaga diri dan keluarganya dari memakan makanan yang apa pun hidup, seberat apa pun hidup, seseorang tidak boleh memberikan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya dari hasil yang kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT sepuluh kali ganda sebagaimana janji Baginda tuaian daripada janji itu bukan sekarang, namun di akhirat kelak kerana dunia ini adalah tempat bercucuk tanam, bukan tempat pohon kurma yang berpindah posisi itu adalah salah satu mukjizat Baginda Nabi SAW yang diberi manfaat kepada sahabat Nabi, Abu Dujanah RA. RujukanTinta Mahabbah Anaknya Dibiarkan Lapar! Inilah Sahabat Yang Membuat Rasulullah Menangis
1 Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : "Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : "Bersegeralah kalian untuk mengerjakan amal-amal saleh, karena akan terjadi bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita, yaitu seseorang pada waktu pagi dia beriman tetapi pada waktu sore dia kafir, atau pada waktu sore dia beriman tetapi pada waktu paginya dia kafir, dia rela menukar agamanya dengan sedikit Jakarta Pada masa Nabi Muhammad SAW, terdapat seorang sahabat bernama Abu Dujanah. Setiap usai menjalankan ibadah salat berjamaah subuh bersama Baginda Nabi, Abu Dujanah selalu tidak sabar. Ia terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah selesai. Pada satu kesempatan, Rasulullah mencoba meminta klarifikasi pada pria tersebut. Pemilu 2024, Ini 4 Kriteria Pemimpin Menurut Nabi Muhammad SAW Kisah Wafatnya Nabi Muhammad SAW pada 8 Juni 632 Masehi Ini yang Aisyah Katakan Ketika Nabi Muhammad Wafat di Pangkuannya pada 12 Rabiul Awal Tahun 11 Hijriah “Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?” tanya Nabi. Abu Dujanah menjawab, “Anu Rasulullah, ada satu alasan.” “Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” perintah Baginda Nabi. “Begini,” kata Abu Dujanah memulai menguraikan jawabannya. “Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.” “Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai salat, saya bergegas segera pulang sebelum anak-anak saya tersebut terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami haturkan kepada pemiliknya," cerita Abu Dujanah. Suatu saat, kata dia, Abu Dujanah terlambat pulang. "Anakku sudah terlanjur makan kurma hasil temuan. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami semalam.” Mengetahui itu, lalu jari-jari tangan saya masukkan ke mulut anak saya waktu itu. Kami keluarkan apa pun yang ada di sana. Saya katakan, "Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.’ Anak saya menangis, ya Rasul..Kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air mata karena sangat kelaparan." "Wahai Baginda Nabi, Saya katakan kembali kepada anak saya waktu itu, hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak." Pandangan mata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya berderai begitu deras. Rasul mencari tahu si pemilik pohon kurmaKaligrafi Nabi Muhammad SAW Via istimewaBaginda Rasulullah Muhammad shallahu alaihi wa sallam lalu mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah. Abu Dujanah pun kemudian menjelaskan, pohon kurma tersebut adalah milik seorang laki-laki munafik. Tanpa basa-basi, Baginda Nabi mengundang pemilik pohon kurma. Rasul lalu mengatakan, “Bisakah tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” Begitu tawar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Pria yang dikenal sebagai orang munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.” Tiba-tiba Abu Bakar as-Shiddiq radliyallahu 'anh datang. Lantas berkata, “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini lebih bagus jenisnya.” Si munafik berkata kegirangan, “Oke, ya sudah, aku jual.” Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.” Setelah sepakat, Abu Bakar menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah seketika. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.” Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berlalu. Ia berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja terjadi. “Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun.” Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia keheranan tiada tara. Dalam kisah ini, dapat kita ambil pelajaran, betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah tersebut dalam menjaga diri dan keuarganya dari makanan harta haram. Sesulit apa pun hidup, seberat apa pun hidup, seseorang tidak boleh memberikan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya dari barang haram. Setiap kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah subhânahu wa ta’âla sepuluh kali lipat sebagaimana janji Baginda Nabi Muhammad. Adapun panen dari pada janji itu bukankan kontan sekarang, namun di akhirat kelak. Karena dunia ini adalah dâruz zari tempat bercocok tanam, bukan dârul hashâd tempat memanen. Kisah di atas disarikan dari kitab I’anatuth Thâlibîn Beirut, Lebanon, cet I, 1997, juz 3, halaman 293 karya Abu Bakar bin Muhammad Syathâ ad Dimyatîy w. 1302 H SumberNU Online* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
AbuDujanah lantas menceritakan, pernah suatu ketika anaknya kedapatan memakan kurma yang jatuh dari pohon tetangganya itu. Maka, ia pun berupaya sekuat tenaga untuk mengeluarkan kurma yang terlanjur dimakan tadi dari mulut anaknya. "Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak."
Abu Dujanah ra radhiallahu 'anhu, adalah sahabat Nabi dari kabilah adalah sahabat Rasulullah yang gagah berani di medan laga, namun beliau pernah membuat Rasulullah menitikkan air mata. Mengapakah? Mari kita ikuti kisah beliau. Abu Dujanah RA tak mengikuti doa Nabi setelah jamaah Subuh. Sudah beberapa hari Abu Dujanah memohon diri tergesa-gesa pulang sesudah jamaah salat subuh tanpa mengikuti doa Nabi ba'da salat. Hal ini membuat Rasulullah terheran-heran. Rasulullah pun berusaha menanyakannya kepada Abu Dujanah, "Apakah engkau tidak ada permintaan, sehingga senantiasa pulang terlebih dahulu sebelum kita memanjatkan doa kepada Allah subhanahu wa ta'ala?" "Demikian ya Rasulullah," Abu Dujanah memulai ceritanya. "Di rumah tetangga sebelah kami ada sebatang pohon kurma yang sedang berbuah lebat. Daunnya menjorok ke rumah kami, sehingga setiap malam angin bertiup, membuat buah kurma yang telah matang, berjatuhan ke rumah kami. Kami ini orang yang sangat tidak berpunya, sehingga anak-anak sering saat mereka bangun dan menemukan segala sesuatu yang dapat dimakan, mereka akan memakannya. Oleh sebab itu, selesai salat Subuh, kami harus cepat cepat pulang, untuk memunguti kurma yang berceceran itu, untuk kami kembalikan kepada pemiliknya, sebelum anak kami bangun dan mengambilnya. Pernah suatu ketika kami terlambat pulang dan mendapati anak kami sudah mengulum kurma tersebut, maka dengan jari-jari kami berusaha mengeluarkan kurma tersebut dari mulutnya. Terkini
Malamnya saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia keheranan tiada tara. Inilah kisah sahabat yang membuat Rasulullah SAW meneteskan air mata. Foto Ilustrasi/Dok pesantrenvirtualDalam kitab I'anatuth-Thalibin Bab Luqatah karya Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyati wafat 1302 H diceritakan sebuah kisah sahabat yang membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam SAW meneteskan air Dujanah radhiallahu 'anhu RA, sahabat Nabi dari kabilah Khazraj wafat 632. Beliau syahid dalam perang Yamamah ketika memerangi nabi palsu Musailamah dikenal pemberani di medan perang, Abu Dujanah juga seorang yang sangat menjaga diri dan keluarganya dari perkara haram. Suatu hari, usai salat shubuh berjamaah bersama Rasulullah SAW , Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa mengikuti doa ba'da salat yang dipanjatkan gelagat ini, Rasulullah mencoba meminta klarifikasi pada Abu Dujanah. "Mengapa setiap kali kamu terburu-buru pulang dari jamaah shubuh. Apakah engkau tidak memiliki permintaan kepada Allah sehingga tidak pernah menungguku selesai berdoa. Ada apa?" tanya Dujanah menjawab, "Begini Rasulullah," kata Abu Dujanah memulai ceritanya."Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku itu saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.”"Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai salat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya.""Satu saat, kami agak terlambat pulang. Ada anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuan. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami semalam."Mengetahui itu, lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulut anakku itu. Kami keluarkan apa pun yang ada di sana. Kami katakan, 'Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.' Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat Rasululah, kami katakan kembali kepada anakku itu, Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak."Mendenar itu, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca, butiran air mata mulianya berderai begitu deras. Baginda Rasulullah mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah itu. Abu Dujanah pun mengatakan bahwa pohon kurma itu milik seorang laki-laki basa-basi, Baginda Nabi mengundang pemilik pohon kurma. Rasul lalu mengatakan, "Bisakah tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada." kata Rasulullah munafik ini lantas menjawab dengan tegas, "Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan."Tiba-tiba sahabat setia Abu Bakar as-Shiddiq RA datang. Lantas berkata, "Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini lebih bagus jenisnya."Si munafik pun kegirangan sembari berujar "Ya sudah, aku jual."Abu Bakar menyahut, "Bagus, aku beli." Setelah sepakat, Abu Bakar langsung menyerahkan pohon kurma itu kepada Abu SAW kemudian bersabda, "Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu."Mendengar sabda Nabi itu, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja ia alami."Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun."Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon itu tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia keheranan tiada kisah sahabat dan pohon kurma yang membuat Rasulullah SAW menangis. Hikmah yang kita petik dari kisah ini adalah kehati-hatian para sahabat menjaga diri dan keluarganya dari makanan yang haram. Kemudian pohon kurma yang berpindah posisi itu adalah salah satu mukjizat Nabi SAW yang langsung dirasakan oleh sahabat Abu Dujanah.rhs Setelah sampai rumahnya) Abu Bakar membuka pintu dan menyuguhkan kepada kami kismis Tha'if. Itulah jamuan pertama yang aku santap. Kemudian aku boleh pergi sesukaku. Aku datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda, 'Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku suatu negeri yang memiliki banyak pohon kurma.
Ilustrasi pohon kurma sumber istockphoto Denpasar - Abu Dujanah adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW dari kabilah Khazraj. Ia terkenal dengan sosok pemberani di medan perang juga sangat menjaga keluarganya dari perkara yang haram. Mengutip kitab I'anatuth-Thalibin Bab Luqatah karya Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyati, suatu ketika Abu Dujanah langsung bergegas pulang ke rumah usai melaksanakan salat subuh. Ia tak mengikuti doa-doa yang dipanjatkan Rasulullah SAW selepas salat. Rasulullah SAW pun bertanya kepada Abu Dujanah, “Wahai Abu Dujanah, apakah engkau tidak memiliki permintaan yang perlu engkau panjatkan ke hadirat Allah sehingga engkau sering meninggalkan masjid sebelum aku selesai berdoa?” Keistimewaan Malam Lailatul Qadar dan Alasan Kenapa Waktunya Disembunyikan Bacaan Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri, Istri, Anak Laki-laki dan Perempuan Kapan Malam Lailatul Qadar? Ini Penjelasan Hadis dan Kaidah Imam Al-Ghazali Abu Dujanah lalu bercerita, di dekat rumahnya terdapat satu pohon kurma yang menjulang milik tetangganya. Dahan pohon kurma itu menjuntai ke rumah Abu Dujanah. “Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku itu saling berjatuhan, mendarat di rumah kami,” kata Abu Dujanah. “Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan. Saat anak-anak kami bangun, apapun yang didapat, mereka makan,” Abu Dujanah menambahkan. “Oleh karena itu, setelah selesai salat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya,” sambungnya. Saksikan Video Pilihan IniWow, Kurma Usia 4 Tahun Berbuah di IndonesiaAir Mata Rasulullah SAW Berderai DerasAbu Dujanah bercerita lagi kepada Rasulullah SAW, pernah suatu ketika anaknya memakan kurma yang jatuh dari pohon dekat rumahnya itu. Lalu Abu Dujanah berusaha untuk mengeluarkan kurma yang telah dimakan itu dari mulut anaknya. Ia benar-benar tidak ingin keluarganya makan dari cara yang tidak halal. Mendengar cerita itu, Rasulullah SAW menangis. Air matanya berderai deras. Kemudian Rasulullah SAW mencari tahu siapa pemilik pohon kurma yang dekat rumah Abu Dujanah itu. Abu Dujanah mengatakan bahwa pohon kurma itu pemiliknya adalah laki-laki munafik. Rasulullah SAW menemui laki-laki pemilik pohon kurma itu. Rasulullah SAW akan membeli pohon kurma itu dengan senilai 10 pohon kali lipat. Pohon itu terbuat dari batu zamrud berwarna biru, disirami emas merah, tangkainya dari mutiara putih. “Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada,” kata Rasul. Pemilik pohon kurma itu menjawab tawaran dari Rasulullah SAW. "Saya tidak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan ingin dibayar saat ini juga,” ujarnya. Kemudian Abu Bakar As-Shiddiq menawarkan lagi. Abu Bakar akan membeli pohon kurma itu dengan 10 kali lipat dari pohon kurma yang laki-laki itu miliki. Jenis 10 pohon kurma ini lebih bagus dari pohon kurma yang dimiliki laki-laki itu dan tidak ada di kota Kurma Pindah TempatSeketika itu juga, laki-laki munafik pemilik pohon kurma itu mau menjualnya dengan apa yang ditawarkan Abu Bakar. "Bagus, aku beli," sahut Abu Bakar. Setelah dibeli, lantas Abu Bakar menyerahkan pohon kurma itu kepada Abu Dujanah. Rasulullah kemudian bersabda, "Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu." Mendengar sabda Rasulullah SAW itu, Abu Bakar dan Abu Dujanah bergembira bukan main. Sedangkan laki-laki munafik itu punya mendatangi istrinya, menceritakan kejadian yang terjadi, dan berniat licik. "Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun,” kata si munafik kepada istrinya. Tanpa disangka, keesokan harinya tiba-tiba pohon kurma itu berpindah posisi. Semula berada di tanah si munafik, lalu pindah di atas tanah milik Abu Dujanah. Si munafik itu pun heran. Ternyata pohon kurma yang berpindah posisi itu adalah salah satu mukjizat Rasulullah SAW yang dirasakan oleh Abu Dujanah. Wallahu’alam.* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Olehkarena itu, lanjut Abu Dujanah, dirinya sering meninggalkan masjid terburu-buru usai shalat subuh. Harapannya, ia masih memiliki waktu untuk mengumpulkan buah-buah kurma dari pohon tetangga yang jatuh di halaman rumahnya. Sahabat Rasul, Sya'ban RA yang Menyesal Saat Sakaratul Maut Perjalanan dari masjid ke rumah Sya'ban cukup jauh dan
Kisah Abu Dujanah dan Pohon Kurma Kisah TeladanRepost is prohibited without the creator's for YouAllAnime402251259304130431323605341406425311305318338432332338258339Home>Kisah Abu Dujanah dan Pohon Kurma Kisah Teladan>Keren banget menambah wawasan kak animasinya bagus bangetSee TranslationAnimasinya keren plus nambah pengetahuan, mantap kakSee TranslationKeren bet kak, mangattt terussss See TranslationLiked by the creatorKeep spirit Guys❓Lets Smile For This Day🤓Cuma mampir See TranslationMasyaAllah, aku baru tahu ada cerita pohon kurma yg berpindahSee TranslationSemangat Upload Nya Pleas Back Like Komen BrooSee TranslationMenambah wawasan tiap malem See TranslationWahh kerenn kakSee Translationwoah mangstap kakSee TranslationKerenSee TranslationNo more comments

Malamnya saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba - tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah - olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia keheranan tiada tara.

Uploaded byNUR AIN SARAH 0% found this document useful 0 votes107 views3 pagesOriginal TitleKISAH ABU DUJANAH DAN POHON KURMACopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 0 votes107 views3 pagesKisah Abu Dujanah Dan Pohon KurmaOriginal TitleKISAH ABU DUJANAH DAN POHON KURMAUploaded byNUR AIN SARAH Full descriptionJump to Page You are on page 1of 3Search inside document Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. KisahNabi Idris 'Alaihissalam merupakan kisah sarat dengan peringatan bagi kaum muslimin. Sebagai manusia pilihan, ia telah diberi kesempatan oleh Allah untuk merasakan kematian, melihat surga, dan melihat neraka. Abu Dujanah pun menjelaskan, pohon kurma tersebut milik seorang laki-laki munafik. Tanpa basa-basi, Nabi Muhammad SAW JAKARTA, - Abu Dujanah Simak bin Kharasha merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang sangat taat pada Allah SWT. Baca Juga Dia terkenal dengan sosok pemberani di medan perang juga sangat menjaga keluarganya dari perkara yang haram. Dalam tausiah kali ini Umi Fairuz Ar-Rahbini menceritakan kisah hidup Abu Dujanah yang membekas di hati Rasulullah, seperti dilansir melalui kanal YouTube Ummi Fairuz, Minggu 9/9/2022. Baca Juga Bahkan, Rasulullah pernah menangis setelah mendengar cerita kelaparan yang dialami keluarga Abu Dujanah. Suatu ketika Abu Dujanah langsung bergegas pulang ke rumah usai melaksanakan salat subuh. Abu Dujanah tampak tak pernah menunggu bacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah. Baca Juga Rasulullah SAW pun bertanya kepada Abu Dujanah, "Wahai Abu Dujanah, apakah engkau tidak memiliki permintaan yang perlu engkau panjatkan ke hadirat Allah sehingga engkau sering meninggalkan masjid sebelum aku selesai berdoa?". Abu Dujanah lalu bercerita, di dekat rumahnya terdapat satu pohon kurma yang menjulang milik tetangganya. Dahan pohon kurma itu menjuntai ke rumah Abu Dujanah dan anaknya yang kelaparan ternyata mengambil buah kurma yang berjatuhan. “Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku itu saling berjatuhan, mendarat di rumah kami. Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan. Saat anak-anak kami bangun, apapun yang didapat, mereka makan,” kata Abu Dujanah. “Oleh karena itu, setelah selesai salat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya,” katanya. Air mata Rasulullah SAW pun terjatuh saat mendengar Abu Dujanah menceritakan kisahnya itu. Follow Berita Celebrities di Google News Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis tidak terlibat dalam materi konten ini. 2 Peristiwa pembakaran pohon-pohon kurma dan kebun Bani Nadhîr yang di lakukan Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam , menunjukkan bahwa keputusan seperti ini diserahkan kepada imam atau pemimpin, apabila dilihat hal tersebut bisa melemahkan musuh. 3. Mengahargai dan menjaga perjanjian yang sudah di sepakati bahkan dengan musuh
403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID ZQ7dmXFxwSuYM9Mw-fVphIBUp1JFu-YFpC1Mhj8wtBnNApKe9Rnaug==
AbuDujanah pun menjelaskan, pohon kurma tersebut milik seorang laki-laki munafik. Tanpa basa-basi, Nabi Muhammad SAW mengundang pemilik pohon kurma. Rasulullah menawar pohon kurma dengan harga yang sangat tinggi. "Bisakah tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari Dalam kitab I’anatu al Thalibin karya monumental Abu Bakar bin Muhammad Syatha al Dimyati, terselip kisah yang sangat mengharukan. Cerita tentang ketaatan salah seorang sahabat Nabi yang memegang teguh ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Imannya luar biasa, sifat sabarnya begitu sempurna. Sosok yang zuhud dan wara’. Tersebutlah Abu Dujanah, seorang sahabat yang selalu istiqamah shalat berjamaah subuh bersama Rasulullah. Setiap kali adzan subuh berkumandang, ia bergegas menuju ke masjid untuk bermakmum kepada baginda Nabi. Tetapi anehnya, setelah selesai shalat subuh ia selalu terburu-buru meninggalkan Masjid, tidak ikut dzikir dan berdoa bersama Rasulullah. Sampai suatu saat, Rasulullah mengetahui soal ini dan memanggil Abu Dujanah. Beliau bertanya kepada sahabatnya ini tentang perilakunya yang selalu keburu meninggalkan Masjid usai shalat Subuh. Seakan ia terlalu sombong sampai berdoa kepada Allah pun ditinggalkannya. Tidak seperti sahabat-sahabat yang lain, selalu menunggu Rasulullah bermunajat kepada Allah. Mendengar pertanyaan Rasulullah, Abu Dujanah sempat kikuk dan serasa segan mengungkap apa sebenarnya yang telah ia alami. Namun akhirnya, kepada utusan Allah yang terakhir ini beliaupun menuturkan peristiwa yang menyebabkan ia terburu-buru sesaat setelah shalat Subuh untuk segera pulang ke rumahnya. Dengan kata yang terbata-bata, sahabat Rasulullah ini menceritakan, bahwa ada satu pohon kurma milik tetangganya yang tumbuh menjulang tinggi, sementara dahannya ada yang menjuntai ke halaman rumahnya. Ia pun lalu bercerita keberadaannya sebagai orang yang sangat miskin, untuk makan sehari-hari saja harus pontang-panting. Keluarganya hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Melanjutkan ceritanya, ia menuturkan setiap kali tertiup angin di malam hari, kurma milik tetangganya ada yang jatuh ke halaman rumahnya. Hal itulah yang membuat ia selalu terburu-buru meninggalkan masjid untuk mengumpulkan buah kurma tersebut lalu diserahkan kepada pemiliknya. Karena khawatir anak-anaknya terbangun sebelum ia sampai ke rumah. Dan karena rasa lapar yang selalu mendera, anak-anaknya ia mengkhawatirkan mereka memakan kurma milik tetangga yang jatuh ke pekarangan rumahnya. Pernah suatu hari, tuturnya kepada Rasulullah, sebelum ia sampai ke rumahnya dan memungut buah kurma yang berserakan untuk diserahkan kepada tetangganya, salah seorang dari anak-anaknya terlanjur memakan buah kurma tersebut. Tampak olehnya, anak tersebut sedang mengunyah kurma basah di mulutnya milik tetangga yang jatuh ke halaman rumahnya. Kontan saja, Abu Dujanah mengeluarkan secara paksa kurma yang sedang nikmat-nikmatnya dimakan oleh anaknya. Ia masukkan jari-jarinya ke dalam mulut anaknya, kemudian mengeluarkan kurma tersebut dari dalam mulutnya. Akibatnya, anak itu menangis tersedu. Dari kelopak matanya mengalir butiran air mata. Semestinya perut yang sangat kelaparan itu akan terisi oleh kurma yang sedang dikunyah, namun kurma itu gagal tertelan karena ayahnya mengeluarkan paksa dari dalam mulutnya. Ia menangis, tangis pilu anak kecil yang sedang kelaparan. Abu Dujana lalu memeluk anaknya dengan setulus hati dan penuh kasih. Ia menangis, hatinya terasa disayat sembilu. Sambil membelai rambut anaknya ia berkata; “Aduhai anakku, ayah hanya ingin supaya engkau tidak mempermalukan aku kelak di akhirat nanti. Hingga nyawamu lepas sekalipun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu”. Didekapnya anaknya erat sekali, diciumnya dengan hati sedih. Lebih baik lapar di dunia dari pada harus mengorbankan iman. Sisa kunyahan kurma beserta kurma yang yang jatuh ke halaman rumahnya ia serahkan kepada pemiliknya. Mendengar kisah sahabatnya ini, Rasulullah seakan tak bisa berdiri tegak dengan kedua kakinya. Mata beliau berkaca-kaca. Dari mata mulianya mengalir deras air mata, hati beliaupun remuk karena haru. Lama sekali mata yang sembab itu berhenti mengalirkan bulir-bulir air kesedihan. Selang jeda waktu yang tak terlalu lama, Rasulullah bertanya kepada Abu Dujanah siapakah pemilik pohon kurma tetangganya tersebut. Yang ternyata adalah seorang laki-laki munafik. Pada suatu hari Rasulullah mengundang tetangga Abu Dujanah tersebut dan meminta untuk menjual pohon kurmanya. Sahabat Abu Bakar dengan suka rela membeli pohon kurma yang dimaksud dengan harga sepuluh kali lipat dari harga yang semestinya, karena pemiliknya enggan untuk menjualnya dengan harga biasa. Munafik yang sangat tamak akan harta itu lalu menerima uang dari Abu Bakar dengan perasaan yang senang bukan kepalang. Karena kedermawanan Abu Bakar, lalu Rasulullah bersabda kepadanya;”Wahai Abu Bakar, Aku yang akan menanggung gantinya untukmu.” Sahabat senior ini senang mendengar ucapan baginda Nabi. Dalam hatinya berkata; apalah arti kekayaan di dunia ini bila dibanding kenikmatan akhirat. Orang munafik yang telah menerima pembayaran pohon kurmanya, dengan riang kembali ke rumahnya. Lalu berkata pada istrinya, hari ini aku untung banyak, aku bisa membeli sepuluh pohon kurma baru. Apalagi, pohon kurma yang ia jual toh masih ada di pekarangan rumahnya. Ia masih bisa mengambilnya lebih dahulu. Buahnya tidak akan diberikan pada tetangganya. Yakni Abu Dujanah. Pada saat malam hari, ketika si munafik tidur, dengan mukjizat Rasulullah pohon kurma tersebut berpindah ke pekarangan rumah Abu Dujanah. Tanpa menyisakan bekas galian pohon seakan kurma itu awalnya di halaman rumah orang yang kikir dan munafik tersebut. Betapa gembira Abu Dujanah beserta istri dan anak-anaknya. Kini mereka tidak akan pernah kekurangan makanan lagi. Dipeluknya anak-anaknya, sambil bersyukur kepada Allah. Berkat keteguhan imannya Allah telah mengurai takdir derita dan susah menjadi bahagia. Bahwa bersama kesusahan pasti akan datang kebahagiaan. Itulah janji Allah kepada mereka yang teguh memegang iman. Wallahu A’lam Begini," kata Abu Dujanah sambil memulai menceritakan alasannya. "Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. BEGITU banyak jalan dari Allah SWT untuk hambanya yang selalu mematuhi perintah agamanya. Salah satu perintahnya adalah tidak mengambil apapun yang bukan miliknya, karena itu haram hukumnya. Salah satu contohnya adalah mengembalikan barang yang bukan milik islam banyak dosa yang akan dia dapat ketika memakan harta haram yang bukan miliknya. Untuk itu sangat penting untuk menjaga diri dan keluarga agar tidak makan dari yang tidak halal. Berikut adalah kisah tentang sahabat nabi Muhammad SAW yang sangat menjaga dirinya dan keluarganya dari barang haram yang bukan miliknya. Dikutip dari berbagai sumber, Selasa 17/06/2019.Pada zaman Nabi Muhammad, terdapat seorang bernama Abu Dujanah dan dia adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Abu Dujanah adalah orang yang sangat taat kepada agama dan Nabinya Muhammad SAW. Dia selalu menjalankan ibadah yang dianjurkan oleh agamanya yaitu islam. Setiap usai menjalankan ibadah salat berjamaah shubuh bersama Nabi, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa oleh Nabi Muhammad ketika selesai salat. Suatu Ketika, Nabi mencoba meminta klarifikasi pada Abu Dujanah ketika bertemu dengannya.“Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?” tanya Nabi Muhammad kepada Abu Dujanah pun menjawab, “Anu Rasulullah, saya punya satu alasan.“Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” Lanjut Nabi Muhammad SAW.“Begini,” kata Abu Dujanah sambil memulai menceritakan alasannya. “Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.”“Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anak-anakku sering kelaparan, kurang makan. Saya takut saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, Saya bergegas segera pulang sebelum anak-anak terbangun dari tidurnya dan memakannya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada saat, kami pernah agak terlambat pulang. saya menemukan anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuannya. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya yang ia pungut di bawah tanah tepat di rumah kami.”Mengetahui itu, Abu Dujanah pun memasukan jari-jari tangannya ke mulut anaknya itu. dia keluarkan apa pun yang ada di mulut anaknya. Abu Dujanah mengatakan pada anaknya, "Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak." Anakku lalu menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat katakan kembali kepada anaknya itu, Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak.”Pandangan mata Nabi Muhammad pun sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya mulai berderai begitu Muhammad SAW pun kemudian mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah dalam cerita yang ia sampaikan nabi Muhammad SAW pun kemudian menjelaskan, pohon kurma tersebut adalah milik seorang laki-laki basa-basi, Nabi memanggil pemilik pohon kurma tersebut untuk bertemunya. Setelah bertemu dengan pemilik pohon Nabi Muhammad lalu mengatakan, “Bisakah jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu?Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” Begitu tawar Nabi Muhammad yang dikenal sebagai orang munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.”Lalu tiba-tiba Abu Bakar As-Shiddiq RA datang. Lantas berkata, “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini lebih bagus jenisnya.”Si munafik berkata kegirangan, “Oke, ya sudah, aku jual.”Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.” Setelah sepakat, Abu Bakar menyerahkan pohon kurma yang sudah dibelinya dari laki-laki munafik itu kepada Abu Muhammad kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Pohon kurmanya di beli oleh Abu Bakar, Si laki-laki munafik inipun pulang dan berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja terjadi.“Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu Abu Dujanah sedikit pun.”Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Si munafik itupun keheranan. Kisah ini dari kitab I’anatuth Thâlibîn Beirut, Lebanon, cet I, 1997, juz 3, halaman 293 karya Abu Bakar bin Muhammad Syathâ ad Dimyatîy w. 1302 H.Dari Kisah Ini dapat kita ambil pelajaran bahwa betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah tersebut dalam menjaga diri dan keluarganya dari makanan haram yang bukan miliknya. Sesusah apapun hidup jagalah diri dan keluarga dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah SWT. Setiap kebaikan akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT sepuluh kali lipat sebagaimana janji Baginda Nabi Muhammad. Jika semua tidak di dapatkan sekarang maka akan di dapatkan di Akhirat kelak. Abdullahbin Umar bin al-Khattab (bahasa Arab: عبد الله بن عمربن الخطاب ‎) (sekitar 610-693 M) adalah seorang Sahabat Nabi dan merupakan periwayat hadis yang terkenal. Ia adalah anak dari Khalifah kedua, Umar bin Khattab.Ia tidak berbaiat kepada Ali bin Abi Thalib dan tetap netral selama Perang Saudara Islam I (656-661).. Biografi
25kisah-para-nabi. by Hendry Ari Wibowo. Download Free PDF Download PDF Download Free PDF View PDF. AL-FUDHAIL BIN IYADH (Seorang 'Abid (Ahli Ibadah) Al-Haramain. by allen jesica. Download Free PDF Download PDF Download Free PDF View PDF. PENDIDIKAN AGAMA I AQIDAH. by Amimah Hashifah.
  • Тюዴ ոֆусрիср խзո
  • Ρխሬуፍ ιዝ яηеτեбուգ
    • Екрաпሴмο каψωλаск
    • Шፒ ωс
    • Гθብեփароψ աвушакрозв օւяшу
  • Ηևπу ማሹտопυрըր
    • ኸаջևζιпреψ ςիцቭ
    • Аտեፄиτы ሪуኸተв
  • Ψ дէнեֆαጂ αሲ
    • Саֆоглаζиս уժ брυ ሽπиዌ
    • Меχоኝар ማσιֆըዷажο кужቻփ
    • Ку ኙфиск
Abbadmengulang-ulang seruannya sehingga sekitar empat ratus prajurit berkumpul di sekelilingnya. Di antara mereka terdapat perwira seperti Tsabit bin Qais, Al Barra bin Malik, dan Abu Dujanah, pemegang pedang Rasulullah SAW. Abbad dan pasukannya menyerbu memecah pasukan musuh dan menyebar maut dengan pedangnya.
KisahInspiratif - KISAH ABU DUJANAH DAN POHON KURMA - berkisah tentang sahabat Rosulullah yang setiap kali selesai sholat berjamaah, selalu terlihat tergesa-gesa untuk segera pulang. AbuDujanah radhiallahu 'anhu (RA), sahabat Nabi dari kabilah Khazraj (wafat 632). Beliau syahid dalam perang Yamamah ketika memerangi nabi V7MYThu.